[Review Buku] : SI ANAK CAHAYA Karya Tere Liye

Buku-Buku yang kita baca, orang-orang yang kita dengarkan, perkumpulan yang kita ikuti, akan membentuk perangai kita hingga tega melakukan apa pun. (Halaman 117)

Judul Buku          : Si Anak Cahaya
Penulis                 : Tere Liye
Co-Author           : Sarippudin
Penerbit               : Republika Penerbit
Tahun Terbit        : Cetakan I, Desember 2018

Jumlah Halaman : 417 halaman    

Sinopsis

“Nama kau Nurmas, itu nama yang indah sekali. Nur itu cahaya, mas atau emas itu logam mulia yang berharga. Aku harap, suatu saat cahaya dan kemuliaan kau akan menyatu, berkilauan.”  Buku ini tentang Nurmas, si anak cahaya yang memiliki petualangan masa kecil yang penuh keceriaan dan menakjubkan. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Nurmas hingga penduduk seluruh kampung selalu mengingat kejadian yang membuatnya resmi dipanggil si anak cahaya?  Dari puluhan buku Tere Liye, serial buku ini adalah mahkotan

Buku ini merupakan buku kelima dari serial anak nusantara dan merupakan salah satu buku yang saya tunggu di tahun 2018.  Info yang saya dapatkan, buku ini akan terbit di bulan Oktober, ternyata baru bisa terbit di bulan Desember.  Saya pun ikut pre-order, dan alhamdulillah sampai ke tangan saya, tepatnya tanggal 18 Desember 2018, dua hari menjelang keberangkatan traveling ke tiga negara di benua Eropa.  Maka saya memutuskan buku ini untuk menemani perjalanan saya, mewakili koleksi buku-buku saya. Mungkin ini buku koleksi saya yang paling beruntung dibawa traveling, saya tidak ambil foto di setiap sudut destinasi wisata yang saya kunjungi, karena takut akan mengundang perhatian para turis, eh kok si bookworm bukannya baca buku, malah traveling?  Biar makin spesial, maka saya memilih foto buku ini dengan background puncak Jungfrau di Swiss.  Sebuah negara yang telah saya impikan sejak SD, dan alhamdulillah akhirnya terwujud, beruntungnya saya pun bisa mengunjungi salah satu masterpiece dari destinasi wisata yang rekomended banget! Buku ini pun selalu saya bawa ke mana pun, karena setia berada di tas, sepertinya enggan  pergi atau membuat pemiliknya lupa untuk menyimpannya di hotel saat traveling

Baca: Resensi SELENA dan NEBULA karya Tere Liye

Sebagai penggemar serial Anak-Anak Mamak, saya sangat mengharapkan buku yang ceritanya khusus membahas tentang Mamak.  Alhamdulillah Bang Tere mengeluarkan karya ini, Si Anak Cahaya.  Buku ini seperti menjawab rasa penasaran saya tentang sosok Mamak.  Bagaimanatidak penasaran, kalau Mamak bisa mendidik anak-anaknya : Eliana, Burlian, Pukat dan Amelia menjadi pribadi yang berakhlak indah juga bisa mewujudkan impian-impian mereka tanpa dibelenggu oleh keterbatasan.  Ternyata memang Mamak ini, dari kecil memiliki pribadi yang indah, pantas saja Mamak yang bernama Nurmas atau biasa dipanggil Nung, bisa mendidik keempat anaknya dengan hebat.  Bagi saya pribadi, buku ini seolah pembelajaran, dan pengingat bahwa ketika saya nanti punya anak dan ingin mendidik anak-anak saya, maka terlebih dahulu saya pun harus memiliki pribadi yang baik, sehingga saya bisa menghasilkan pribadi dan karakter anak yang baik pula dan  akan menjadi penerang bagi orang-orang di sekelilingnya.  Buku ini juga sangat cocok dibaca oleh orang tua, anak-anak, remaja, dewasa, dan siapa pun, cocok untuk semua umur.  Lewat buku ini kita akan menyelami kehidupan di masa lalu yang penuh keceriaan meski dalam keterbatasan, dan belum ada pengaruh gadget.  Bagi saya pribadi, dengan membaca Si Anak Cahaya akan mengingatkan saya pada kenangan masa kecil, saat saya tumbuh dan tinggal di desa.

Kalau kamu baru pertama kali baca serial Anak-Anak Mamak, ini merupakan buku kelimanya.  Kalau sebelumnya serial anak-Anak Mamak, maka sekarang menjadi serial Anak Nusantara.

Stop beli buku bajakan!!! Karena merugikan diri sendiri dan banyak pihak

Nurmas, merupakan anak pertama pasangan Yadi dan Qaf.  Cerita ini ber-setting tahun 1950.  Mereka hidup di sebuah desa.  Memiliki 3 sahabat yang menyenangkan dan kadang menyebalkan karena suka menjodoh-jodohkannya dengan Badrun S.  yaitu:  Jamilah, Siti dan Rukayah.  Nama belakang Badrun tidak satu pun ada yang tahu kepanjangan dari apa.  Badrun kelas 6, Nurmas kelas 5.  Badrun dimata Nung, sangat menyebalkan sebab selalu memanggilnya si anak sok, sok pintar!  Sementara Nung dan teman-temannya mempelesatkan haruf S menjadi Si Susah atau Si Sulit.  Mereka memiliki Guru SD satu-satunya yang mengajar sekolah, namanya Pak Ahmad Zen, atau biasa dipanggil Pak Zen.  Guru mengajinya Kakek Berahim. 

Baca juga:

Nung memiliki petualangan-petualangan seru baik sendiri atau pun bersama teman-temannya.  Yang paling menyentuh saat Nung seorang diri berangkat ke kota kabupaten untuk menemui dokter Van Arken dan akan membeli obat untuk Bapaknya yang sedang sakit dengan menumpang gerobak milik Bang Topa.  Petualangan yang menegangkan saat Nung ditemani ketiga sahabatnya menunggu ladang dan bertemu babi hutan liar juga harimau.  Salah satu cerita yang kocak dan mengocok perut saya, ketika Nung dan ketiga sahabatnya menjadi murid Nek Beriah, dukun anak di kampungnya.  Saat Jamilah disuruh mempraktekan jadi Ibu hamil yang sedang melahirkan anak (baca sendiri ya, asli kocaaaak! ).  Kemudian Nung mencoba peruntungan berjualan di statiun kereta api bersama ketiga sahabatnya juga, meskipun pada akhirnya layu sebelum berkembang, akibat krisis ekonomi terpaksa statiun di kampungnya di tutup dan harus berpisah dengan Pak De yang sudah bekerja dan berada di kampungnya selama dua puluh tahun. 

Baca juga: review buku JANJI (unedited version) karya Tere Liye

Puncak yang paling seru dan menegangkan saat kembalinya Dulikas ke kampungnya, dan mencari Bapak-nya Nung, untuk balas dendam.  Satu per satu rumah di kampungnya dibakar.  Berkat bantuan Kibo, kerbau milik Bang Topa, yang mengamuk karena  anak buah Dulikas menyalakan lampu dari truk-truk yang mereka bawa, Nung bisa kabur dengan menggendong adiknya, Unus.  Ia berjalan menuju kabupaten sejauh 15 pal. Meskipun bertemu dengan banyak rintangan, seperti dihadang di Puyang (harimau) yang akhirnya memangsa dukun sakti di kampungnya, bertemu babi, hingga empat anjing liar yang hampir saja memangsa Nung dan Unus, sebelum ajal menjemput, maka datanglah pertolongan dari dua tentara yang berasal dari kampungnya, orang yang Nung cari.  Malam itu juga Nung beserta puluhan tentara mendatangi kampungnya, hingga akhirnya menangkap Dulikas.  Apa yang telah dilakukan oleh Nung, akan selamanya diingat oleh warga di kampungnya. 

Baca juga: review buku Si Anak Pintar – Pukat

Menurut saya, ceritanya menarik dan seru sekali, khas anak-anak desa dengan setting saat Indonesia baru merdeka.   Jalan cerita susah ditebak, dan happy ending!  

Baca juga: Si Anak Pemberani – Eliana

Tidak sangka, dibagian epilog seperti menuntaskan keisengan sahabat-sahabat Nung, dan membuat keisengan itu menjadi nyata.  Atau di keempat buku sebelumnya, kita akan mengenal sosok Bapak yang bernama Syahdan tidak lain dan tidak bukan adalah Badrun.  Badrun Syahdan, begitulah nama panjangnya.  Suka banget sama buku ini Totally recommended!  Bacaan yang bergizi sekaligus menghibur, banyak pelajaran hidup yang bisa diambil. Kalau keempat anaknya Mamak di buku sebelumnya berjudul Eliana, maka sekarang di recover dengan judul buku Si Anak Pemberani, Anak keduanya Pukat, bukunya di recover jadi Si Anak Pintar, Anak ketiganya Burlian, bukunya di recover jadi Si Anak Spesial dan si bungsu Amelia, bukunya di recover jadi Si Anak Kuat.  Ayo dibaca buku-buku sebelumnya!   Ceritanya tak kalah seru dengan buku ini 

Baca juga: Mr. CRACK Dari Pare-Pare

Kalau postingan sebelumnya saya memasukkan 10 fiksi favorit tahun 2018.  Maka kalau harus memilih satu buku terfavorit tahun 2018, maka pilihan saya buku Si Anak Cahaya 

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dalam buku Si Anak Cahaya :

  1. Bagi negeri yang baru lahir, setelah sekian ratus tahun dijajah, keterbatasan adalah keniscayaan.  Beragam bentuk keterbatasan itu ada yang seperti aliran sungai yang deras dan dalam, ada yang seperti gunung yang tunggi dan terjal.  Tentu saja, apa pun bentuknya, keterbatasan itu harus diatasi agar tidak menjadi penghambat bagi semua cita-cita anak negeri.  (Halaman 1)
  2. Cerita tentang mengarungi dan mendaki keterbatasan.  Satu dua dengan semangat dan ketekunan.  Tiga empat dengan kegigihan dan kejujuran.  Lima enam dengan keberanian dan ketulusan.  Pada akhirnya, yang ingin kusampaikan pada kalian, berapa pun dalam dan terjal keterbatasan yang harus diatasi, pastikan yang ketujuh adalah dengan keceriaan.  (Halaman 1)
  3. Di rumah kami, seperti telah menjadi peraturan tidak tertulis, jika namaku disebut lengkap, itu berarti serius (Halaman 3) 
  4. Zaman itu hanya ada dia cara bagi penduduk kampung pergi ke kota kabupaten.  Yang pertama menumpang kereta api, dengan jadwal setiap Senin dan Kamis, yang kedua naik gerobak uang ditarik kerbau.  Naik kereta tidaklah murah, maka aku memilih menumpang gerobak Bang Topa.  (Halaman 21)
  5. “Tuhan tempat meminta.  Tuhan yang Satu.  Bukan pada pohon, bukan pada gunung, apalagi pada segala macam tempat larangan.  (Halaman 62)
  6. Cukup dengan percaya bahwa membantu orang lain sejatinya adalah membantu diri sendiri, maka itu alasan kuat untuk tidak membiarkan kau tergeletak menghadapi pilihan, tewas kehabisan darah atau ditangkap serdadu Belanda. (Halaman 116)
  7. “Begitu juga kalau kau jahat pada orang lain, itu sama saja jahat pada diri sendiri.  Lihatlah kau sekarang.  Beberapa jam lalu gagah sekali kau mendobrak pintu, sekarang mengangkat kaki pun kau tidak bisa.” (Halaman 116)
  8. Gadis ini, tidak ada basa basi dari cara bicaranya.  Tegas.  Tapi jelas dia cerdas dan baik.  Dia bersedia menolong orang yang justeru hendak mencelakakanya.  (Halaman 117)
  9. “Ampunan Tuhan seluas langit dan bumi ini, Nak.  Selalu ada ampunan bagi orang-orang yang kembali.” ….”Maka mudah bagi Tuhan untuk meluaskan ampunannya, melebihi luasnya langit dan bumi.” (Halaman 123)
  10. Buku-Buku yang kita baca, orang-orang yang kita dengarkan, perkumpulan yang kita ikuti, akan membentuk perangai kita hingga tega melakukan apa pun. (Halaman 117)
  11. “Jimat Mamak adalah rasa cintanya.”  Bapak melanjutkan penjelasannya.  “Kau tahu, rasa cinta itu adalah perisai yang kuat.” (Halaman 159)
  12. Yang aku tahu persis, bila dua teman sedang marahan, salah paham, jika besok lusa mereka berbaikan, mereka akan menjadi dekat dan saling memahami.  Itu selalu spesial.  Selalu menyenangkan melihat persahabatan sejati.  (Halaman 184)
  13. “Sungguh, untuk membesarkan satu anak, dibutuhkan seluruh penduduk.  Oi, nasihat lama itu benar sekali.” (Halaman 202)
  14. Terbang elang menjelang petang.  Munuju langit tinggi menjulang.  Mohon bersabar Adinda sayang.  Lebaran nanti Kakanda pulang.  (Halaman 211)
  15. Di ladang benih padi ditebar.  Tunggul pengganggu ditebas parang.  Adinda janji akan bersabar.  Asal kakanda buat Dinda seorang.  (Halaman 212)
  16. “Kau selalu Anak spesial di rumah ini, Nung. Tidak pernah tergantikan.”  Mamak membalasku penuh kasih sayang.  “Ini ada hadiah untukmu, karena telah membantu Mamak mengurus Unus.  Telah menjadi Kakak yang baik untuk Unus.  (Halaman 233)
  17. “Sedangkan aku hanya punya Ilmu membantu orang bersalin, itu pun kalau dianggap Ilmu.  Aku mau mengajarkannya kepada orang-orang, agar menjadi amal jariah buatku, menjadi tabunganku nantinya.  (Halaman 238)
  18. “Silahkan diminum, silahkan dimakan.  Jangan kaget, aku sudah bertanya pada Zen tentang Ilmu mengajar yang baik.  Kata guru kalian itu, pastikan murid-murid dalam keadaan menyenangkan.  Buat murid-murid menyenangi gurunya, temannya, pelajarannya, juga tempat belajarnya.  Nah, aku harap kalian senang berada di rumahku sekarang ini.”  (Halaman 240)
  19. “Tidak ada yang bisa memastikannya.  Hanya Tuhan dan kalian sendiri yang tahu persis kalian patuh atau tidak.  Tapi inilah gunanya kita bertemu, lantas mengambil keputusan bersama-sama.  Kita harus bersatu.  Hanya dengan itu kita bisa melewati musim paceklik.  (Halaman 276)
  20. “Selalu ada jalan keluar, Nung, sepanjang kita terus tekun berusaha.  Dan lihatlah, kita berkumpul bersama, memutuskan banyak hal, itu karena ada yang telah tekun berusaha lebih dulu.” “Siapa, Pak?” “Kau, Nung.  Kau yang memulainya, dengan berkeliling kampung bersama teman-teman terbaik, menghitung jumlah persediaan beras penduduk.  Bapak bangga sekali.” (Halaman 281)
  21. “Rezeki datang bukan hanya dari keuntungan berjualan, Nung.  Masih banyak pintu rezeki lain,” jawab Mamak tiap kali aku memprotes kebaikan hatinya saat berjualan.   (Halaman 286)
  22. Jangan keliru melihatnya.  Sungguh kotoran kerbau,  itulah bukti betapa besar kasih sayangnya pada kau. …… Sore itu, aku tahu persis betapa besar kasih sayang Mamak dan Bapak kepadaku.  (Halaman 299)
  23. “Berdagang bisa jadi salah satu caranya, Nung.  Seperti saudagar, mereka membawa kerajinan tangan, permadani.  Menjualnya di tempat lain, kemudian pulang membawa rempah-rempah, minyak wangi.  Berdagang adalah cara cepat mendapatkan uang.” (Halaman 302)
  24. “Kalau semua orang berusaha langsung sukses, berhasil, maka semua manusia di dunia ini akan jadi pengusaha,” tambah Bapak.  (Halaman 309)
  25. “Sepanjang kita terus tekun berusaha, kita bisa melewati paceklik, Nung.  Lagi pula, boleh jadi ada kejutan.”  (Halaman 325)
  26. Sungguh tidak kusangka, saat aku benar-benar nyaris putus asa, perjalanan ini telah tiba di ujungnya.  (Halaman 402)
  27. Oi, adikku masih terlalu kecil.  Dia tidak tahu kami baru saja menaklukan perjalanan yang akan dikenang seluruh penduduk kampung.  (Halaman 404)
  28. “Kau akan kalah.  Dulu, sekarang, hingga kapan pun, kau akan kalah.  Akan selalu ada pertolongan bagi orang-orang yang dianiaya.” (Halaman 407).
  29. “Kau hebat sekali, Nak.  Bapak meraihku, memeluk erat-erat.  Aku menangis seketika.  Mamak juga memelukku erat-erat.  “Lihatlah, malam ini kau datang bermandikan Cahaya, Nak.  Hebat sekali.  Sejatinya itulah arti namamu.  Nurmas, Si Anak Cahaya.  Malam ini kau telah menyelamatkan seluruh kampung.” (Halaman 409).

….. Oi, kalian tentu sudah mengenal dia bukan?  Di empat buku yang menulis kisah tentang anak-anakku, namanya sudah berkali-kali disebut.  Syahdan.  Ya, kami memiliki empat anak.  Dan belajar dari pengalaman kami, anak-anak kami didik dengan sugesti hebat itu.  Si Anak Pemberani, itu Si Sulung kami.  Si Anak Pintar, itu yang nomor dua.  Si Anak Spesial, itu yang nomor tiga.  Si Anak Kuat, itu bungsu kami.

Kalian bisa membaca kisah-kisahnya di buku mereka.  Pun Jangan lupakan, masih banyak kisah-kisah dari seluruh negeri yang akan diceritakan.  Bukan hanya keluarga kami yang memilikinya, tapi juga ribuan kisah lain yang menginspirasi.  Kita membutuhkan kisah-kisah ini untuk mendidik anak-anak kita menjadi Anak yang jujur, berani, kuat, dan memiliki seluruh tabiat baik lainnya.  

Nantikan buku-buku berikutnya, dengan kisah anak-anak dari keluarga lain. Satu-dua boleh jadi adalah kisah yang tidak jauh dari tempat kalian tinggal.  (417)

Happy reading! 🙂

Hal yang membuat saya selalu tertarik dan tidak bosan membaca buku-buku karya Tere Liye, salah satunya Tere Liye menyajikan buku dengan banyak genre. Dari puluhan buku yang sudah ditulisanya, berikut ini buku-buku Tere Liye yang sudah saya baca dan review:

NOVEL GENRE ANAK-ANAK & KELUARGA :

GENRE ROMANCE : 

GENRE FANTASY:

GENRE POLITIK & EKONOMI:

GENRE ACTION:

Genre science and fiction bercampur romance, lingkungan hidup:

Genre Biografi tapi tidak pure lebih banyak unsur refleksi: 

KUMPULAN PUISI:

KUMPULAN QUOTE:

GENRE SEJARAH:

GENRE BIOGRAFI

Buku Cerita Anak Bergambar versi Bahasa Indonesia yang sudah terbit bukunya:

BUKU TERE LIYE Yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris

Buku-Buku Serial Karya Tere Liye:

Ebook yang sudah baca di Google Play Book

Baca juga:

Baca juga:

Happy reading!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s