[Review Buku] : PERGI Karya Tere Liye

Cerita -cerita dongeng memang fiksi, tapi inspirasi yang ditimbulkan jelas nyata. (Halaman 128)

Judul                     : PERGI
Penulis                  : Tere Liye
Co Author             : Sarippudin
Jumlah halaman : 455 halaman
Tahun Terbit        : Cetakan pertama, April 2018
Penerbit                 : Republika Penerbit

Sinopsis:
“Sebuah kisah tentang menemukan tujuan,
kemana hendak pergi,
melalui kenangan
demi kenangan masa lalu,
pertarungan hidup mati,
untuk memutuskan
kemana langkah kaki
akan dibawa.
Pergi.”

Akhirnya buku baru Tere di tahun 2018, keluar juga, Alhamdulillah.
Novel PERGI merupakan sekuel dari novel PULANG (2015). Membuka lembar pertama tentu saja tertulis judul novel dan penulis. Tapi sebelum lanjut ke halaman berikutnya, saya sempat berpikir, kok ada Co-author : Sarippudin ? Siapakah dia? (Jangan harap ada keterangan di lembar terakhir tentang sosok penulis, karena buku-bukunya Tere Liye memang tidak pernah mencantumkannya). Seingat saya, dari puluhan buku yang ditulis Tere Liye, baru kali ini ada Co-Author. Entah saya yang baru ngeh, atau memang demikian adanya. Baiklah, yang bisa menjawab pertanyaan saya hanya Bang Tere Liye. Mari membahas buku yang sudah selesai saya baca.
Buku ini ber-genre action,dan menurut saya seru sekali! Mulai halaman pertama disuguhkan dengan berbagai aksi, kisah yang tak terduga. Ibarat lagi ikutan lomba lari, rasanya ingin cepat sampai finish, saking serunya 

Karakter-karakter di buku pergi, beberapa masih sama seperti di novel pulang, yaitu Bujang, Salonga, si kembar Kiko dan Yuki, serta White, Master Dragon. Tentu saja banyak karakter baru bermunculant, menambah semarak fiksi ini. Setting ceritanya di Mexico, Indonesia, Singapura, Jepang (kota Tokyo), Rusia (kota Moscow), Spanyol (kota Madrid), Makau, Hong Kong. Buku pergi terdiri dari 31 bab + epilog, yang benar-benar bikin greget!

Cerita-nya tentang Bujang alias Si Babi Hutan, alias Agam yang kini menjadi Tauke Besar menggantikan Tauke Besar Lama yang sudah meninggal (ceritanya di Novel Pulang) di Keluarga Tong. Setelah Tauke Besar meninggal, Bujang meneruskan kepemimpinan ayah angkatnya tersebut dalam Keluarga Tong. Kali ini Bujang harus berhadapan dengan Master Dragon, pimpinan tertinggi dari 8 keluarga penguasa shadow economy. (Tentang shadow economy bisa dibaca halaman 38 -40).

 Ada delapan keluarga penguasa shadow economy di Asia Pasifik. Mereka adalah:

  1. Keluarga Tong,
  2. Keluarga Lin di Makau,
  3. El Pacho di Meksiko,
  4. Keluarga J.J. Costello di Miami Florida – tidak peduli dengan keluarga lain, fokus pada bisnis mereka, bersikap netral,
  5. Keluarga Yamaguchi di Tokyo,
  6. Keluarga Wong di Beijing, besan Master Dragon
  7. Bratva di Moskow,
  8. Master Dragon di Hong Kong. Pimpinan tunggal dari delapan keluarga.

Berikut ini kalimat-kalimat favorit saya dari buku PERGI:

  1. Aku tahu kehidupan Bapak rumit. Ambisinya. Kisah cintanya. Dia bukan orang yang sempurna, hidup nya dipenuhi kekecewaan. Aku tahu, lebih banyak luka dihati Bapakku dibanding di tubuhnya. Juga Mamakku, lebih banyak tangis di hati mamakku dibanding di matanya. (Halaman 54).
  2. Mamak dulu memang diam-diam mengajariku ilmu agama, aku bisa membaca kitab suci, bahkan tulisan Arab gundul. Aku bisa shalat, aku hafal sedikit banyak nasihat agama, dan sebagainya, tapi setelah berpuluh tahun hidup di keluarga Tong, situasinya tidak mudah. Aku dibesarkan di keluarga penguasa shadow economy. Aku bisa menjaga perutku dari alkohol,babi, dan semua makanan haram lainnya. (Halaman 82-83).
  3. “Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Agam.” Tuanku Imam menatapku, tersenyum. “Tapi begitulah rumus kehidupan. Dalam perkara shalat ini, terlepas dari apakah seseorang itu pendusta, pembunuh, penjahat, dia harus tetap shalat, kewajiban itu tidak luntur. Maka semoga entah di shalat yang ke-berapa, dia akhirnya benar-benar berubah. Shalat itu berhasil mengubahnya. Midah pasti pernah bilang itu kepadamu.”
  4. “Kehidupanmu ada dipersimpangan berikutnya, Agam. Dulu kamu bertanya tentang definisi pulang, dan kamu berhasil menemukannya, bahwa siapapun pasti akan pulang ke hakikat kehidupan. Kamu akhirnya pulang menjenguk pusara Bapak dan mamakmu, berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan. Tapi lebih dari itu, ada pertanyaan penting berikutnya yang menunggu dijawab. Pergi. Sejatinya, ke mana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut? Apa yang harus dilakukan? Berangkat ke mana? Bersama siapa? Apa ‘kendaraannya’? Dan kemana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Itulah persimpangan hidupmu, Bujang. Menemukan jawaban tersebut. ‘Kamu akan pergi ke mana’? Nak.” (Halaman 86)
  5. Dengan tidak melupakan darah yang mengalir di tubuhmu, semoga kamu berhasil menemukan jawabannya, Agam.” Tuanku Imam menatapku lembut. (Halaman 87).
  6. Posisimu unik Bujang. Kamu adalah satu-satunya kepala keluarga yang tidak dilahirkan oleh pengkhianatan. Dan Kamu tidak menginginkan kekuasaan tersebut. Hingga detik terakhir kematian Tauke Besar, kamu menolak menjadi kepala keluarga Tong. Itulah yang membuatku datang, termasuk hingga sekarang, tetap menemanimu, padahal di Tondo ratusan murid menungguku. Aku berharap padamu, Bujang. Sama seperti guru mengaji itu, dia berharap banyak.” (Halaman 111)
  7. Rambang. Bapak tidak memehami cita-citaku sepenuhnya. Saya tidak mau menjadi tukang pukul seperti dia. Saya ingin menjadi penyelesai masalah tingkat tinggi. Sekali ada masalah yang tidak mungkin diselesaikan, saya yang akan menyelesaikannya. (Halaman 127)
  8. Cerita -cerita dongeng memang fiksi, tapi inspirasi yang ditimbulkan jelas nyata. (Halaman 128)
  9. “Sampai bertemu lagi, Kawan.” Thomas menjulurkan tangannya, “Aku tahu, jika ini hanya cerita bersambung, banyak pembaca yang ingin melihat kita bertarung bersisian.” (Halaman 225)
  10. Apakah memang langit ada batasnya? Ternyata tidak juga. Karena segala sesuatu pasti akan ada akhirnya. Apakah aku benar-benar bahagia dengan pilihan hidupku? Apakah aku benar-benar bangga dengan seluruh yang pernah aku lakukan? Akan berakhir di halte mana perjalanan hidupku? (Halaman 388)
  11. “Jangan pernah berputus harapan. Kamu akan selalu menemukan harapan baru. Jalan baru yang lebih baik. Saat itu tiba, kamu akan tahu harus pergi ke mana.” (Halaman 389)
  12. Kisah tentang dua petani yang di sampaikan Salonga kepada Bujang, halaman 390-395, juga bagus!  Dia memang mempunyai banyak hal sekarang, tapi dia lupa apa hakikat hidup itu sendiri. Apa yang sebenarnya dia cari? Karena pada saat mati, semua akan tertinggal di belakang.” Kisah dua petani

Selain itu, dalam cerita ini Bujang juga akan bertemu dengan seorang pemuda misterius di Mexico yang memanggilnya “Hermanito” di akhir perjumpaan mereka. Kata Salonga, guru penembak Bujang, “Hermanito” artinya saudara laki-laki (adik/kakak). Jadi, maksudnya Bujang punya saudara? Kok bisa? Bukannya dia anak tunggal dari Bapak Samad dan Mamaknya Midah? Bujang juga akan bertemu dengan Maria, serta berduel dengan Gadis yang pernah satu kampus ketika kuliah di Amerika.
Biar kamu nggak penasaran, cari tahu sendiri di novelnya. Ceritanya tidak kalah seru dengan novel PULANG. Masih kental dengan aksi berantem-beranteman dan tembak-tembakan ala film Hollywood. Dan muncul banyak tokoh baru. Kalau kamu benar sudah baca novel PULANG, bakal sayang banget untuk nggak lanjut ke PERGI.
Meskipun di lembar terakhir ditutup oleh kata “TAMAT,” sebagai pembaca, saya masih ingin ada kelanjutannya. Apalagi di salah satu bab, bab 16 Kue Pernikahan. Ada satu karakter muncul bernama Thomas atau bisa dipanggil Tommy (tokoh utama di buku Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk), yang menyelamatkan Tuan Hiro Yamaguchi saat boom yang dirancang Yurii meledak, sementara Bujang menyelamatkan Ayako. Apa jadinya kalau ada kelanjutannya?
Bang Tere Liye saya menantikan kisah selanjutnya Bujang. Bujang + Tommy + Diego. Kalau disatukan ketiga karakter ini, bakalan tambah seru! Kalau genre fantasy diwakili serial Bumi, ada tiga karakter utama: Raib, Ali dan Seli dengan petualangannya yang seru dan menakjubkan. Maka alangkah keren dan serunya lagi jika genre action bisa menyatukan karakter Bujang, Tommy, dan Diego, dibuku yang berbeda, biar bisa seperti kisah para Avengers. Semoga!

Happy reading!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s