[Review Buku] Suku Penunggang Layang – Layang Karya Tere Liye

“Tetapi Baba Khan tidak pernah menyerah. Ingatlah itu selalu, Nak. Rasa takut tidak membuatnya berhenti, kau juga jangan berhenti mencoba.” (halaman 56)

Judul                    : Suku Penunggang Layang-Layang
Penulis                 : Tere Liye
Ilustrator             : Indra Bayu
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit       : 27 Januari 2021
Jumlah halaman : 72 hlm. ; 30 cm
ISBN                      : 9786020648910

Sinopsis:

Tekukong adalah anak pengembala ternak. Persis pada ulang tahunnya yang ke-12, ia harus melewati ujian yang sangat penting sekali bagi sukunya. Apa itu? Menunggang layang-layang! Wah, suku mereka hebat sekali. Mereka tidak menggiring ternak dengan cara biasa, melainkan dengan menaiki layang-layang besar. Sayangnya, Tekukong punya rahasia yang membuatnya kesulitan melewati ujian tersebut. Tapi ia ingin sekali bisa terbang di udara, menaiki layang-layang bersama teman-temannya.

Apakah Tekukong berhasil? Selamat membaca kisah tentang menaklukan rasa takut. Sungguh tidak apa merasa takut, asal kita terus melangkah maju.Mencoba mencari cara mengatasinya.

Setelah baca buku Toki Si Kelinci Bertopi, saya lanjut baca buku Suku Penunggang Layang-Layang. Sebelumnya baca e-book (versi bahasa Inggris) di Google Play—The Tribe of Kite Runner, saya sudah senang sekali dengan buku ini. Tak disangka, ternyata versi cetaknya sekeren dan segagah ini 😍😍🤩🤩

Cerita khas Bang Tere Liye-nya tetap terasa, dengan kehadiran buku anak ini, saya makin salut sama Bang Tere memang penuh kejutan. Ilustratornya juga keren sekali. Membuat buku cerita ini semakin spesial untuk dibaca dan dikoleksi.

Baca juga: review buku Si Anak Cahaya

Buku ini mengisahkan tentang Tekukong yang berteman baik dengan Orus, Sartaq. Kedua sahabatnya sangat piawai menunggang layang-layang. Sementara dia sebaliknya. Sebagai anak kepala suku, dia dituntut untuk bisa memiliki kemampuan ini. Namun, setelah dia terus mencoba menunggang layang-layang, dia selalu saja gagal. Tanpa diketahui banyak orang, bahkan kedua sahabatnya, ternyata dia memiliki rahasia kecil yang membuatnya selalu terjatuh ketika layang-layang sudah di atas, tidak lebih dari lima detik. Kenyataan bahwa anaknya belum bisa menunggang layang-layang  membuat ayahnya kesal, tapi tidak demikian dengan ibunya yang berusaha memahami dan menyemangati anaknya. Kira-kira apa rahasia kecilnya Tekukong? Untuk lebih jelasnya, silakan baca bukunya 🙂

Karakter: Tekukong, Kepala Suku (ayahnya Tekukong), Ibu, Orus, Sartaq, Baba Khan, dan lain-lain.

Yang menarik dari buku ini:

  • Buku Anak berjudul Suku Penunggang Layang-Layang sangat bagus, dengan ilustrasi terbaiknya, sehingga  menambah poin kalau buku anak ini memang keren. 
  • Kolaborasi penulis sekelas Tere Liye dan ilustratornya Indra Bayu, membuat buku ini terkesan megah. Buku lokal, rasa luar negeri. Berasa baca buku terjemahan dari penulis luar negeri. 
  • Cover-nya  keren dan gagah. Saya jatuh cinta sama buku serial buku anak bergambar ini, dan tak sabar menantikan buku-buku berikutnya terbit.
  • Cocok banget buat kado atau diberikan kepada anak-anak, adik-adik, saudara, teman. 
  • Cerita khas Bang Tere Liye-nya tetap terasa, Bang Tere memang penuh kejutan. Ilustratornya juga keren sekali. Membuat buku cerita ini semakin hidup dan terasa spesial untuk dibaca dan dikoleksi, serta dibaca dan dinikmati oleh anak-anak usia 5+. Bahkan Bapak, Ibu, Kakak, bisa membaca bersama buku ini dengan anak, atau adik, sambil menikmati gambar dan mendiskusikan isi ceritanya. 
  • Kalau kamu sudah terbiasa, atau kenal dengan gaya kepenulisan Tere Liye, maka saat kamu baca sinopsis pun, kamu akan kenal pesan khas yang tersirat dari gambaran besar isi buku ini. 

Baca juga: review buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Pesan moral: Lewat karakter Tekukong, anak-anak akan belajar untuk mengenal rasa takut di dalam diri, sambil terus berusaha menemukan cara untuk mengatasinya. Karena rasa takut itu hal yang wajar, dan seperti pesan yang disampaikan penulisnya bahwa sungguh tidak apa-apa merasa takut, selama melangkah maju dan berusaha terus mengatasinya. Jadi, ketika anak-anak merasa takut, jangan ditakut-takutin. Seperti yang dilakukan oleh Ibunya Tekukong, beliau tidak memarahi anaknya, melainkan dengan lembutnya memberi pengertian sekaligus memberi nasihat untuk terus berusaha mengatasinya.

Happy reading!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s